Parigi Moutong, EQUATORNEWS – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) tengah gencar melakukan berbagai upaya strategis untuk memperjuangkan pengakuan Bahasa Tialo sebagai bahasa mandiri. Langkah ini diambil sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga kelestarian budaya dan memperkuat identitas linguistik masyarakat lokal.
Selama ini, Bahasa Tialo kerap dikategorikan hanya sebagai bagian dari rumpun bahasa Dondo di Tolitoli. Padahal, secara faktual, bahasa ini memiliki karakteristik kuat dan dituturkan oleh masyarakat dalam jangkauan wilayah yang sangat luas di Kabupaten Parimo.
“Kita ingin Bahasa Tialo ini diakui sebagai bahasa mandiri. Karena penuturnya cukup banyak, dari Kecamatan Tomini sampai Moutong,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Parimo, Ninong Pandake, pada Rabu (8/4/26).
Untuk memuluskan langkah tersebut, Disdikbud Parimo tidak berjalan sendiri. Pihaknya resmi menggandeng Balai Bahasa dalam menjalankan program revitalisasi bahasa daerah. Selain itu, sebuah agenda besar berupa kongres bahasa juga tengah disiapkan guna memperkokoh legalitas dan posisi tawar Bahasa Tialo dalam peta linguistik nasional.
Langkah konkret penyelamatan bahasa daerah ini juga akan merambah dunia pendidikan formal. Disdikbud Parimo menargetkan Bahasa Tialo resmi dimasukkan ke dalam kurikulum Muatan Lokal (Mulok) untuk tingkat sekolah pada tahun 2027 mendatang.
Sebagai modal awal, pemerintah daerah akan terlebih dahulu memperkuat kapasitas tenaga pendidik melalui Workshop Bahasa Daerah yang dijadwalkan pada September 2026. Pelatihan ini akan menyasar para guru SD dan SMP di wilayah terkait.
“Guru-guru ini nanti yang akan jadi ujung tombak. Kita siapkan dulu lewat workshop sebelum diterapkan di sekolah,” jelas Ninong.
Selain fokus pada aspek kebahasaan, upaya pelestarian sejarah suku lokal juga menjadi prioritas tahun ini. Disdikbud Parimo menjadwalkan penyusunan Buku Ensiklopedia Suku Tialo yang akan dimulai pada Juni 2026. Buku ini nantinya akan merangkum secara komprehensif seluruh daur hidup masyarakat Tialo, mulai dari prosesi kelahiran hingga tradisi wafat.
Tidak berhenti di situ, geliat pelestarian budaya di Parimo juga akan disemarakkan oleh berbagai program makro lainnya, seperti Penyelenggaraan Festival Gampiri, Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), Pelatihan tari tradisional bagi generasi muda dan Penyusunan regulasi penetapan cagar budaya.
Melalui sinergi program yang masif ini, Pemerintah Kabupaten Parimo berharap nilai-nilai luhur rekam jejak sejarah lokal tidak pudar ditelan zaman.
“Langkah ini tidak hanya sebatas program, tetapi mampu memperkuat identitas budaya di tengah derasnya arus modernisasi,” pungkas Ninong.










