PALU, EQUATORNEWS – Ruang Jemaat Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) Sola Gratia Palu mendadak senyap pada Senin pagi, 13 Juli 2026. Di atas mimbar, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, tidak sedang sekadar membaca teks pidato. Suaranya bertenaga, mengalun membawa risalah kecemasan kolektif tentang masa depan yang sedang dipertaruhkan di ujung jarum suntik, lembaran pil koplo, dan runtuhnya sekat-sekat kesantunan.
Di hadapan ratusan tokoh agama dan utusan jemaat, Reny menunjuk dua monster besar yang kini mengintai beranda rumah-rumah kita: badai narkoba dan dekadensi moral. Dua bahaya laten ini laksana rayap yang menggerogoti tiang pancang peradaban, justru ketika bangsa ini sedang gegap gempita menyongsong fajar Indonesia Emas 2045.
“Ketika moral anak-anak terancam, sekat-sekat perbedaan menjadi tidak lagi penting. Kita dipersatukan oleh satu misi besar, yaitu menyelamatkan generasi penerus bangsa,” ujar Reny, memecah keheningan ruangan.
Bagi Reny, ancaman ini terlalu raksasa untuk dihadapi dengan sekat-sekat birokrasi atau dinding-dinding dogma yang kaku. Pemerintah, dengan segala perangkat hukum dan regulasinya, hanyalah sebuah tameng mekanis. Tanpa sentuhan spiritual, tanpa pembinaan hati dan jiwa yang digerakkan oleh para pendeta dan pemuka agama, tameng itu akan rapuh diterjang ombak zaman. Sinergi keduanya, tutur sang Wagub, adalah kunci mutlak untuk merawat nyala api Generasi Emas.
Narkoba, dalam kacamata sang dokter, bukan lagi sekadar urusan jeruji besi. Ia adalah racun yang bekerja dalam senyap, menghancurkan sirkuit-sirkuit kreativitas di kepala anak muda, memutus kemampuan berpikir kritis, dan mematikan api motivasi hidup secara permanen. Ketika zat-zat itu menguasai darah, karakter luhur anak manusia melarut begitu saja.
Gelombang disrupsi informasi juga dituding menjadi biang keladi ambruknya ketahanan keluarga—benteng terakhir tempat karakter seorang anak disemai. Ranah domestik yang dulunya hangat kini dingin, digantikan oleh gawai yang mengikis kepedulian.
Dalam forum bertajuk “Menjaga Generasi Emas: Sinergi Pemimpin Daerah dan Tokoh Agama Menghadapi Badai Narkoba dan Dekadensi Moral” tersebut, Reny mengetuk kesadaran kemanusiaan yang paling dalam. Acara yang dirangkai dalam sinergi kemitraan tri mandiri (teologi, daya, dan dana) itu menjadi panggung seruan moral lintas batas.
“Perbedaan iman tidak boleh membatasi langkah kita untuk bergandengan tangan. Di hadapan kerusakan akibat narkoba dan dekadensi moral, tidak ada sekat agama. Korbannya bisa anak dari siapa saja,” tegas Reny, mengingatkan bahwa racun tak pernah memilih latar belakang teologis korbannya.
Pertemuan yang dihadiri oleh Persekutuan Majelis Sinode GPID beserta perwakilan jemaat dari Donggala, Sigi, hingga Kota Palu ini ditutup dengan sebuah komitmen tak tertulis. Bahwa mimbar-mimbar gereja dan meja-meja birokrasi harus melebur dalam satu gerak nyata: mengedukasi, mendampingi, dan memeluk kembali generasi muda yang hampir tersesat, demi menghalau badai dan memastikan fajar emas itu benar-benar menyingsing.
FAYRUZ/










