Fathia di Lumbung Kasimbar: Menjahit Luka Petani di Antara Irigasi dan Pura

Fayruz
Fathia Merajut Asa Bersama Warga Kasimbar Dalam Satu Bingkai Reses — Foto: Humas Setwan Parigi Moutong

PARIGI, EQUATORNEWS – Kasimbar siang itu bukan sekadar panggung reses. Di Dusun Lumbung, Desa Kasimbar Palapi, pada Rabu, 5 Agustus 2026, demokrasi menemukan wujudnya yang paling telanjang: duduk bersila di tanah, bertatap muka, mendengar jeritan yang selama ini hanya menggema di pematang sawah.

Di tengah lingkaran itu, hadir Fathia SH., Srikandi Parlemen dari Fraksi PDI-Perjuangan DPRD Parigi Moutong. Reses Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025/2026 Dapil II ini ia pusatkan di sana, bukan di balik meja kekuasaan.

Pertemuan itu dihadiri Kepala Desa Posona, Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Kasimbar, para tokoh adat, dan kelompok tani. Tak ada sekat. Warga menyambutnya dengan hangat, sehangat harapan yang mereka titipkan.

“Turun langsung ke Dusun Lumbung ini merupakan kewajiban konstitusional saya untuk mendengar apa yang menjadi jeritan dan harapan masyarakat di tingkat bawah. Seluruh masukan, terutama yang menyangkut hajat hidup para petani kita, akan menjadi dokumen resmi yang siap saya perjuangkan di meja legislatif,” ujar Fathia.

Lalu mengalirlah isi dada petani. Bukan keluhan manja, melainkan jerit hidup-mati. Mereka meminta nadi air diperbaiki: pembangunan jaringan irigasi tersier yang tersendat, yang membuat sawah mereka kehausan di musim kemarau. Mereka juga mendesak kehadiran alat dan mesin pertanian modern, alsintan, agar lumpur tak selamanya menjadi beban punggung dan hasil bumi bisa benar-benar bermartabat.

Di tengah dahaga pembangunan fisik itu, Fathia melakukan sesuatu yang jarang tercatat dalam notulen formal. Ia merawat jiwa dusun. Dari dana pribadinya, ia menyerahkan bantuan tunai untuk Pura di Dusun Lumbung. Uang itu ia letakkan langsung di telapak tangan Mangku, pemuka agama Hindu setempat. Sebuah laku kecil, namun dalam: bahwa negara hadir bukan hanya lewat traktor dan semen, tapi juga lewat rasa aman untuk bersembahyang.

Fathia tak mengakhiri pertemuan dengan janji mengambang. Ia mengunci komitmen.

“Sektor pertanian dan kenyamanan beribadah adalah dua pilar penting bagi masyarakat di Dusun Lumbung ini. Oleh karena itu, usulan pembangunan irigasi tersier, pengadaan alsintan, serta dukungan untuk rumah ibadah Pura ini tidak akan kami sia-siakan. Saya berkomitmen penuh untuk mengawal seluruh aspirasi ini agar disinkronkan dengan program dinas terkait, sehingga bisa segera terealisasi demi kemajuan ekonomi dan sosial warga Kasimbar Palapi,” tegasnya.

Di Lumbung, hari itu, Fathia tidak sekadar menyerap aspirasi. Ia memikulnya.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *