Menjemput Teladan Nabi di Bumi Songulara Mombangu

Fayruz
WAKIL BUPATI H. Abdul Sahid, S.Pd., membacakan sambutan tertulis Bupati H. Erwin Burase dalam acara peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW di Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong, Kamis (17/9). FOTO: DISKOMINFO PARIGI MOUTONG

PARIGI, EQUATORNEWS — Cahaya matahari menyusup di antara celah jendela Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong pada Kamis siang, 17 September 2026. Dalam keheningan yang khusyuk dan lantunan shalawat yang mengalun bagai desir angin pesisir, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong bersama keluarga besar Alkhairaat menggelar peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Siang itu, auditorium tak sekadar menjadi ruang birokrasi, melainkan muara bagi rindu dan pengharapan ribuan jiwa pada sosok sang penuntun zaman.

​Membacakan pesan tertulis Bupati H. Erwin Burase, Wakil Bupati H. Abdul Sahid mengajak hadirin menatap kembali jejak keteladanan Rasulullah SAW—bukan sekadar sebagai tatanan sejarah, melainkan napas dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah kencangnya arus perubahan digital, sosok sang Nabi dihadirkan sebagai kompas moral. Peran ibu dan Wanita Islam Alkhairaat digarisbawahi sebagai benteng utama pembawa kehangatan keluarga, sekaligus pengawal bagi generasi muda dari kepungan teknologi dan jerat gelap narkotika.

​Seruan senada bergema dari Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., yang diwakili oleh Plt. Asisten III Administrasi Umum Drs. Abdul Raaf Malik. Dalam wacana yang disampaikannya, Peringatan Maulid diibaratkan sebagai cermin jernih untuk merenungi kedalaman iman: menata salat, membasahi bibir dengan zikir, serta merajut kembali tali persaudaraan yang kerap terurai oleh perbedaan. Perbedaan, dalam narasi itu, ditatap bukan sebagai jurang pemisah, melainkan ruang luas untuk saling memahami dan menghargai.

​Dihadiri jajaran Forkopimda, para alim ulama, tokoh adat, hingga perwakilan pemuda dan perempuan, peringatan ini menjelma menjadi simfoni kebersamaan. Pembangunan daerah ditegaskan tak boleh berhenti pada megahnya jembatan atau melesatnya angka-angka ekonomi, melainkan harus berakar kuat pada kedalaman akhlak dan kepedulian sosial yang hidup di tengah masyarakat. FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *