PARIGI, EQUATORNEWS – Fajar yang menyingsing di Dusun II, Desa Beringin Jaya, Kecamatan Bolano, Senin (27/4/2026), tidak membawa hangat yang biasa. Alih-alih cahaya, pagi itu justru membawa duka yang membeku di dasar beton. Sesosok tubuh kaku ditemukan tergeletak tak berdaya, mengakhiri perjalanan sunyi seorang pria bernama Rustam (39) dalam pelukan air selokan yang dingin.
Dunia seakan berhenti berputar sejenak bagi warga setempat saat jarum jam menunjuk pukul 06.40 WITA. Rustam ditemukan dalam posisi tengkurap, seolah sedang bersujud pada tanah yang menjadi peristirahatan terakhirnya. Evakuasi berlangsung khidmat namun penuh kepiluan; Kepala Desa Budi Supeno bersama aparat TNI-Polri berjibaku mengangkat raga yang sudah tak bernyawa itu dari keheningan parit ke tepian jalan.
Kesunyian desa sempat pecah oleh raung sirene ambulans yang membawa korban menuju Puskesmas Lambunu I. Namun, takdir rupanya telah mengunci pintunya rapat-rapat sebelum bantuan sempat tiba.
Riwayat Badai di Balik Ingatan
Di koridor puskesmas, isak tangis keluarga pecah menyambut kepulangan Rustam yang tragis. Pihak keluarga dengan hati yang tabah memilih untuk langsung membawa jenazah ke rumah duka di Desa Kotanagaya. Mereka menolak prosedur visum et repertum, menyadari bahwa almarhum selama ini memang bergelut dengan “badai” di dalam kepalanya—riwayat gangguan jiwa dan penyakit epilepsi yang kerap datang tanpa permulaan.
Kapolsek Bolano Lambunu, IPTU Nyoman Jayus Mulyawan, SKM, mengungkapkan bahwa berdasarkan olah TKP, tidak ditemukan jejak-jejak kekerasan atau tangan jahat manusia pada tubuh korban.
”Dugaan kuat, korban terjatuh saat penyakitnya kambuh. Lokasi tersebut memang sering menjadi tempatnya berteduh dan melepas lelah,” ujar IPTU Nyoman dengan nada prihatin.
Pesan dari Balik Tragedi
Meski penyelidikan tetap berjalan demi kepastian hukum, polisi mengimbau warga untuk lebih menjaga “lentera-lentera” yang rapuh di dalam keluarga mereka. Pengawasan terhadap anggota keluarga dengan riwayat penyakit kronis menjadi pesan mendalam yang tertinggal di balik tragedi ini.
Kini, Rustam telah beristirahat panjang di Desa Kotanagaya. Di sana, ia akan tidur tanpa perlu lagi takut akan kambuhnya penyakit yang selama ini membelenggu hidupnya. Sementara itu, situasi di Beringin Jaya kembali sunyi, menyisakan renungan tentang betapa tipisnya tabir antara hidup dan mati di tepi jalan setapak.
FAYRUZ










