Ketika Sungai Ingkar Janji, Mereka yang Tetap Terjaga di Avolua

Fayruz
Lumpur Belum Kering, Tapi Keputusan Harus Segera Diambil. PLT Kalak BPBD Parigi Moutong, Muhammad Rivai, Turun Langsung Di Lokasi Banjir Avolua Untuk Melihat Tingkat Kerusakan Dan Menentukan Langkah Cepat Penanganan. Foto : Pusdalops BPBD Parigi Moutong

PARIGI, EQUATORNEWS – Pukul satu dini hari adalah jam paling sepi di Desa Avolua. Hujan yang turun sejak maghrib tidak lagi terdengar seperti rintik, melainkan seperti deru. Rabu, 26 Agustus 2026, sekitar pukul 01.00 WITA, sungai itu akhirnya ingkar janji.

Air meluap. Bukan sekadar air. Ia datang bersama lumpur pekat, kayu-kayu hutan, dan amarah yang dipendam dari hulu. Dalam hitungan menit, ia menelan Dusun II dan Perum Nelayan, merayap ke Jalan Trans Sulawesi, dan mengubah nadi transportasi Sulawesi itu menjadi rawa cokelat sepanjang 500 meter.

Pagi harinya, yang tersisa adalah jejak. Sebuah Toyota Innova silver dengan nomor polisi B 8937 ZZH terlihat dalam video Pusdalops BPBD Kabupaten Parigi Moutong, memaksa diri membelah banjir yang belum benar-benar pergi. Di tepi jalan, beberapa lelaki berdiri. Diam. Menatap jalan yang biasanya mereka lewati, kini tertutup lumpur setinggi betis.

Bencana selalu datang dengan angka-angka yang dingin, tapi di Avolua angkanya terasa begitu dekat.

Pusdalops mencatat: 28 Kepala Keluarga atau 103 jiwa di Dusun II terdampak. Di Perum Nelayan, 40 KK lainnya ikut terendam. 12 unit rumah rusak, 55 unit terendam. Bahkan pagar pabrik durian pun jebol diterjang. 12 KK terpaksa mengungsi. Beruntung, tidak ada nyawa yang hilang. Nihil.

Di tengah kepanikan yang masih basah, ada mereka yang justru bergerak paling awal.

Ketika laporan pertama masuk pukul 01.42 WITA, Tim Reaksi Cepat dan Pusdalops BPBD Kabupaten Parigi Moutong tidak menunggu pagi. Mereka yang pertama tiba, ketika lumpur masih setinggi lutut. Bersama aparat desa, TNI, Polri, dan warga, mereka melakukan kaji cepat, menarik warga ke tempat aman, dan memastikan Jalan Trans Sulawesi tidak lumpuh total.

Inilah kerja yang jarang dipuji: kerja di jam-jam ketika kebanyakan dari kita masih terlelap. Tanpa sirene meraung-raung, tanpa banyak kata. Koordinasi lintas sektor yang mereka lakukan sejak dini hari itu yang membuat kata “nihil korban jiwa” bisa ditulis dalam laporan ini.

Siang ini, pukul 07.00 WITA, banjir dilaporkan telah surut. Tapi tugas mereka belum surut. Jalan Trans Sulawesi masih macet, tertimbun lumpur dan kayu. Rumah-rumah warga masih butuh dibersihkan. Sungai masih butuh dinormalisasi.

Di posko darurat, daftar kebutuhan mendesak ditulis dengan spidol: makanan siap saji, air bersih, tenda pengungsi, logistik penanggulangan bencana.

Bencana di Avolua adalah pengingat keras bahwa alam bisa ingkar janji kapan saja. Tapi di Avolua pula kita diingatkan, bahwa ada sekelompok orang yang memilih tetap terjaga agar orang lain bisa tetap selamat. Mereka dari BPBD.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *