Jerit Sunyi dari Pesisir Teluk Tomini : Antara Ambisi Asta Cita dan Realita yang Tercecer

Fayruz
Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase , saat Tampil Sebagai Pembicara dalam Acara Rapat Koordinasi Evaluasi Asta Cita di Gedung Serbaguna Matano, Morowali- Foto : Diskominfo Parigi Moutong

MOROWALI, EQUATORNEWS – Di balik riuh rendah Rapat Koordinasi Evaluasi Asta Cita di Gedung Serbaguna Matano, Morowali, pada Kamis, 14 Mei 2026, terselip sebuah narasi getir yang dibawa oleh H. Erwin Burase. Bupati Parigi Moutong itu tidak datang hanya untuk menyetor angka-angka manis di atas kertas. Ia berdiri dengan suara yang bergetar oleh kenyataan, membawa kabar dari sepanjang 512 kilometer garis pantai yang masih meraba-raba wujud nyata keadilan sosial.

​Parigi Moutong adalah sebuah bentang alam yang luas, namun dalam urusan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ia tampak seperti raksasa yang kakinya terbelenggu. Bayangkan saja, dari 841 sekolah yang tersebar, baru 42 persen yang tersentuh. Ribuan anak lainnya, terutama mereka yang bermukim di wilayah utara yang berbatasan dengan Gorontalo, hanya bisa menelan ludah mendengar kabar tentang dapur-dapur modern yang hanya berdenyut di pusat kota.

​Erwin membongkar kejanggalan teknis yang memilukan dalam rapat tersebut. Bagaimana mungkin makanan bergizi dibagikan saat lonceng pulang sekolah hampir berdentang?. Alih-alih disantap di bangku kelas untuk menyuplai energi belajar, kotak-kotak makanan itu berubah menjadi bekal perjalanan pulang, kehilangan esensi filosofisnya sebagai bahan bakar kecerdasan di ruang kelas. Belum lagi urusan birokrasi; pembangunan dapur sentra oleh mitra pusat seolah menafikan kehadiran pemerintah daerah, menciptakan ketimpangan distribusi yang nyata di depan mata masyarakat pelosok.

​Kondisi pendidikan pun tak kalah perih. Di kabupaten ini, terdapat 13.500 anak yang tidak bersekolah, sebuah angka tertinggi di Sulawesi Tengah. Di Kecamatan Tinombo hingga Tomini, mimpi-mimpi kecil seringkali kandas sebelum sempat mekar karena ketiadaan akses. Harapan kini digantungkan pada program Sekolah Rakyat dan usulan ribuan rumah layak huni yang masih menunggu ketukan palu dari pemerintah pusat.

​Di sektor kesehatan, Erwin memaparkan perjuangan yang sunyi. Meski tingkat kepesertaan jaminan kesehatan telah merangkak naik ke angka 89,89 persen, ia sadar bahwa asuransi hanyalah kartu di atas kertas jika tidak dibarengi dengan keberanian anggaran. Parigi kini mengalokasikan dana khusus bagi mereka yang terlupakan oleh sistem: korban kekerasan domestik dan kecelakaan tunggal yang kerap terbentur aturan kaku birokrasi medis.

​Prestasi memang ada yang berkilau. Angka stunting merosot tajam dari 8,7 persen menjadi 8 persen, sebuah penurunan paling dramatis di tingkat provinsi. Namun, keberhasilan ini dibayangi oleh ancaman kelaparan yang ironis. Lahan persawahan yang biasanya meluap dengan surplus ratusan ribu ton beras, pada tahun 2026 ini mulai terendam air mata banjir. Sungai-sungai yang meluap menjadi saksi bisu atas tertundanya anggaran normalisasi yang tak kunjung datang.

​Bupati Erwin menutup paparannya dengan sebuah pesan yang dalam. Ia mengingatkan bahwa Asta Cita tidak boleh hanya menjadi pajangan di dinding birokrasi. Tanpa sinergi yang jujur dan menyentuh hingga ke urat nadi pedesaan, kemegahan program itu akan selamanya tercecer di jalan-jalan rusak menuju pelosok Parigi Moutong.

F AYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *