Sosial  

Menabur Mesin, Menuai Harapan: Bhayangkara ke-80 untuk Petani

Fayruz
Kapolres Parigi Moutong, AKBP DR Hendrawan Agustian Nugraha, Serahkan Bantuan Alsintan untuk Petani - Foto : Humas Polres Parigi Moutong

PARIGI, EQUATORNEWS – Bukan sekadar upacara yang menandai Hari Bhayangkara ke-80. Minggu, 28 Juni 2026, pukul 10.30 Wita, halaman Mako Polres Parigi Moutong dipenuhi suara yang tak biasa. Deru Alat dan Mesin Pertanian, Alsintan, menggema. Polri menyerahkan tenaga besi kepada petani. Seragam yang biasa menjaga jalan, hari itu ikut menjaga agar tanah lebih cepat diolah.

Penyerahan bantuan dipimpin langsung Kapolres Parigi Moutong AKBP Dr. Hendrawan A.N., S.I.K., M.H. Hadir unsur Forkopimda Kabupaten Parigi Moutong, para Pejabat Utama Polres, Kapolsek jajaran, personel Polres dan Polsek, personel TNI Koramil Parigi, wakil instansi, serta para petani penerima bantuan.

Mesin Sebagai Wujud Pengabdian
Dengan tema “Polri untuk Masyarakat”, peringatan Bhayangkara tahun ini diterjemahkan lewat traktor, mesin tanam, dan alat panen. Sebab keamanan juga berarti memastikan lumbung tetap terisi. Alsintan yang disalurkan menjadi cara Polri membaca kebutuhan: mempercepat olah lahan, meringankan kerja, mendorong hasil panen yang lebih tebal.

“Hari Bhayangkara ke-80 menjadi momentum bagi kami untuk semakin mendekatkan Polri kepada masyarakat,” ujar Kapolres Hendrawan. “Penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus komitmen Polres Parigi Moutong dalam mendukung program ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan para petani. Kami ingin kehadiran Polri benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.”

Kolaborasi di Tengah Sawah

Ia menegaskan, kerja ini tak berhenti di Mako. Polri merapat ke pemerintah daerah, TNI, dan seluruh pemangku kepentingan. Sektor pertanian yang menopang ekonomi Kabupaten Parigi Moutong harus dijaga bersama. Bukan hanya dari gangguan, tetapi juga dari lambatnya proses produksi.

Melalui semangat “Polri untuk Masyarakat”, Polres Parigi Moutong menempatkan diri sebagai mitra. Hadir tak hanya ketika malam butuh dironda, tetapi juga ketika siang menuntut mesin bekerja. Di usia ke-80, Bhayangkara menabur mesin di pematang, berharap yang dituai kelak adalah kesejahteraan.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *