MEPANGA, EQUATORNEWS – Di sebuah rumah kayu berdinding ungu pudar di Desa Mensung, Kecamatan Mepanga, Sabtu pagi itu, 12 September 2026, aroma daun basah bercampur tanah masih menggantung. Di lantai, selembar kain putih terbentang. Di atasnya, dedaunan hijau, bunga-bunga kuning, dan kelopak-kelopak kecil ditata dengan sabar, seperti seseorang yang sedang menulis puisi.
Di situlah Hj. Hestiwati Nanga berdiri.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Parigi Moutong itu tidak datang sebagai pejabat. Ia datang sebagai pembaca. Di depannya, empat orang membentangkan kain ecoprint — kain yang lukisannya bukan dibuat oleh kuas, melainkan oleh pigmen daun yang dikukus semalaman.
Paling kanan, dengan jilbab putih dan blazer gading, Hestiwati tersenyum. Tangannya memegang ujung kain bermotif dedaunan kuning kecoklatan. Motifnya tak berulang. Tak ada yang kembar. Sebab alam, seperti yang ia katakan kemudian, tidak pernah menjiplak dirinya sendiri.
“Ecoprint ini punya potensi besar,” ujar Hestiwati di sela-sela peninjauan di pusat industri Ecoprint Lesthary. “Selain menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, kerajinan ini sangat ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan-bahan alami yang ada di sekitar kita.”
Ecoprint Lesthary bukan industri besar. Ia adalah kerja tekun perempuan-perempuan desa yang memungut daun jambu, daun jati, dan bunga-bunga liar di kebun belakang. Daun-daun itu kemudian menjadi cap, menjadi warna, menjadi cerita di atas kain katun dan sutra.
Bagi Dekranasda Kabupaten Parigi Moutong, inilah yang disebut ekonomi kreatif yang masuk akal: tidak merusak, tidak mengimpor, dan tidak meninggalkan limbah. Dukungan yang dijanjikan pun tidak muluk-muluk, tapi menyentuh nadi persoalan: menjaga kerapian jahitan dan ketahanan warna, melatih inovasi desain dan manajemen usaha, serta yang paling sulit — membuka jalan agar kain dari lorong sempit di Mensung itu bisa sampai ke etalase regional dan nasional.
Dari Mensung, pelajaran itu menjadi jelas: pertumbuhan tidak selalu harus datang dari mesin dan beton. Kadang, ia tumbuh pelan-pelan dari daun yang jatuh, dari tangan yang sabar, dan dari kunjungan seorang ketua yang mau percaya bahwa kain desa bisa mendunia.
FAYRUZ









