PARIGI, EQUATORNEWS – Aspal jalanan Parigi yang biasanya sunyi, malam itu berubah menjadi panggung epik bagi para pemburu kecepatan. Di bawah sorot lampu yang membelah kegelapan, ajang Bintang Delapan Belas garapan APT Collaboration resmi dibuka, menandai lahirnya sebuah ruang bagi para calon atlet untuk mengukir prestasi di atas lintasan lari tradisional.
Menenun Silaturahmi dalam Langkah Cepat
Membuka tabir seremoni, H. Wardi, SH, selaku Pembina APT Collaboration, menyampaikan pesan mendalam mengenai hakekat dari kegiatan ini. Baginya, ajang ini bukan sekadar mengejar garis finis, melainkan sebuah ikhtiar untuk mempererat persaudaraan.
”Kami membentuk wadah atau perlombaan pada malam hari ini guna untuk membangun silaturahmi di antara kita. Ini adalah ruang bagi adik-adik kami, para calon atlet, untuk menemukan momentum emas mereka,” ucap H. Wardi dengan nada penuh harap.
Restu Keamanan dan Ketertiban
Dukungan penuh juga mengalir dari aparat penegak hukum. Kapolsek Parigi, Iptu Noldy Williams Sualang, hadir memberikan jaminan rasa aman sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga marwah pertandingan.
”Apa pun yang telah disediakan dan diwadahi oleh panitia pada malam hari ini, mari kita sama-sama mendukung. Semoga pertandingan ini dapat berjalan lancar hingga akhir,” tutur Iptu Noldy, menegaskan pentingnya sportivitas di atas segalanya.
Gema “Bismillah” Pembuka Gerbang Kompetisi
Puncak kekhidmatan terjadi saat Wakil Sekretaris KONI Parigi Moutong, Rinaldi Rosdul, SH, berdiri di depan mikrofon. Dengan wibawa seorang organisator olahraga, ia secara resmi melepas tirai kompetisi.
”Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Lomba Lari Sprint Tradisional tahun 2026 dengan ini saya nyatakan dimulai,” tegas Rinaldi, yang langsung disambut riuh tepuk tangan penonton yang memadati sisi jalan.
Kilat di Balik Doa
Pelaksanaan yang bertepatan dengan suasana menjelang Ramadan 1447H ini menambah nuansa spiritualitas dalam setiap deru napas pelari. Ajang ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi komunitas mampu menghidupkan gairah olahraga di daerah, sekaligus menjadi kado indah bagi pemuda Parigi Moutong yang rindu akan kompetisi yang sehat dan kompetitif.
Kini, lintasan telah membentang. Doa-doa telah dipanjatkan. Hanya mereka yang memiliki mental sekeras baja yang akan pulang membawa gelar “Si Cepat Petir”.
FAYRUZ










