Tujuh Perwira Polres Parigi Moutong dan Peserta dari Poso ikut Ramaikan Sat Res Narkoba E-Football

Fayruz
Sat Res Narkoba E - Football Semakin Meriah dengan Kehadiran Tujuh Perwira Polres Parigi Moutong - Foto : EquatorNews

PARIGI, EQUATORNEWS – Di bawah langit Jumat malam yang khidmat, 13 Maret 2026, pendar lampu WaffelBox Cafe seolah menjadi saksi bisu atas sebuah perhelatan yang memadukan ketangkasan jemari dengan keteguhan hati. Bukan sekadar tentang adu taktik di lapangan hijau virtual, gelaran Sat Res Narkoba E-Football Ramadan Series menjelma menjadi sebuah altar perlawanan terhadap gelapnya jerat narkotika.

​Turnamen yang diikuti oleh 80 ksatria layar kaca ini kian bergengsi dengan hadirnya enam delegasi dari Kabupaten Poso, membuktikan bahwa semangat sportivitas mampu melampaui batas-batas teritorial. Dua palagan utama menjadi saksi pertarungan sengit: nomor e-Football (PES) yang legendaris dan FIFA Series 2026 yang penuh prestise.

​Acara dibuka dengan narasi semangat oleh Kasat Narkoba Polres Parigi Moutong, IPTU Nico Eliezer STrK MH. Dalam pesannya yang menyentuh kalbu, ia menegaskan bahwa kemenangan sejati bukanlah sekadar gol yang tercipta, melainkan kemampuan menjaga diri dari racun dunia.

​Kehadiran tujuh pilar penjaga ketertiban dari Polres Parigi Moutong memberikan rona wibawa dalam balutan suasana yang cair. Tak sekadar menyaksikan, para perwira ini turun langsung ke medan laga, menyatu dengan nafas rakyatnya. Tampak bersinergi di arena:

  • IPTU Anugrah S Tarigan STrK MH (Kasat Reskrim)
  • IPTU Nico Eliezer STrK MH (Kasat Narkoba)
  • IPTU Dwi Wahyu Sagita Ramadan STrK MH (Kasat Lantas)
  • IPDA Muhammad Adib STrK (KBO Sat Res Narkoba)
  • IPDA Annisa STrK (Kanit Regident Satlantas)
  • ​Bersama Kanit Tipidter dan Kanit Pidum yang turut memberikan energi positif.

​Puncak dramatisasi terjadi pada nomor FIFA Series 2026. Di tengah riuh rendah sorak-sorai, IPDA Muhammad Adib STrK menunjukkan ketajaman strateginya. Bak seorang konduktor yang memimpin simfoni, ia mengolah bola-bola virtual dengan presisi tinggi hingga akhirnya keluar sebagai juara, membuktikan bahwa seorang aparat pun memiliki sisi humanis dan talenta yang luar biasa.

​Malam itu, Parigi Moutong tidak hanya merayakan pemenang. Ia merayakan sebuah keberanian untuk berkata “TIDAK” pada narkoba, sembari merajut tali persaudaraan yang kian erat di antara deru mesin permainan dan doa-doa di bulan suci.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *