PARIGI, EQUATORNEWS – Guratan lelah di wajah H. Erwin Burase tak lagi mampu menyembunyikan badai kesedihan yang berkecamuk di dadanya. Senin sore itu, ketika kemeriahan Hari Ulang Tahun ke-62 Provinsi Sulawesi Tengah tengah membuncah di penjuru Palu, sang Bupati justru melangkah gontai meninggalkan keriuhan. Sebuah kabar duka menyapu bersih sisa kegembiraan dari raut wajahnya: Juita, warga yang sempat ia genggam tangannya sehari lalu, telah berpulang ke hadirat Ilahi.
Air Mata Pemimpin di Selasar Undata
Langkah kaki Bupati Parigi Moutong yang tergesa di selasar RSUD Undata Palu menggambarkan betapa berat beban empati yang ia pikul. Didampingi sang istri, Hj. Hestiwati Nanga, Erwin hadir bukan sebagai penguasa yang berjarak, melainkan sebagai sosok ayah yang kehilangan anggota keluarga besarnya. Kepergian Juita akibat tragedi pohon tumbang di Jalan Lida Gimba, Kecamatan Parigi, seolah mengoyak nurani sang pemimpin yang terus memantau perkembangan warganya sejak hari pertama musibah.
Ada getaran yang tak tertahankan dalam suara Erwin saat ia mengenang percakapan terakhirnya dengan almarhumah di RSUD Anuntaloko Parigi. Ia bercerita dengan mata berkaca-cara betapa ia semula mengira kondisi sang anaklah yang jauh lebih kritis karena masih terbaring di ruang ICU. Takdir rupanya menuliskan jalan yang berbeda. Perjumpaan singkat di bangsal rumah sakit itu kini menjadi memori abadi yang menyesakkan dada sang Bupati.
Ikhtiar Manusiawi yang Berujung Pasrah
Meskipun tim dokter spesialis bedah RSUD Undata telah mengerahkan seluruh kemampuannya melalui operasi besar yang berlangsung hingga dini hari, raga Juita tak lagi mampu bertahan. Luka serius pada organ dalam akibat benturan hebat menjadi beban yang terlalu berat untuk dipikul.
Melihat kepedihan keluarga yang memohon agar jenazah tidak disemayamkan di ruang pemulasaran rumah sakit, Erwin bergerak cepat. Ia menunjukkan sisi kemanusiaan yang mendalam dengan berkoordinasi langsung demi memastikan kepulangan almarhumah ke Desa Boyantongo, Kecamatan Parigi Selatan, berlangsung tanpa hambatan. Dalam hitungan menit, ambulans telah bersiap, mengiringi kepergian Juita menuju peristirahatan terakhirnya di bawah tatapan penuh duka sang Bupati.
Luka yang Mendalam bagi Parigi Moutong
Tragedi sabtu kelam itu kini menyisakan luka yang menganga lebar bagi masyarakat Parigi Moutong. Setelah sebelumnya balita mungil bernama Eizan Alfariq Ramadhan berpulang, kini Juita menyusul, menambah daftar panjang kedukaan yang harus didekap oleh Erwin Burase sebagai pemimpin daerah.
Dalam pernyataan resminya, Erwin mengungkapkan bahwa tidak ada kata yang mampu membasuh air mata keluarga yang ditinggalkan. Ia bersimpuh dalam doa, memohon agar almarhumah mendapatkan tempat paling mulia di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan dikaruniai ketabahan seluas samudra. Kini, di bawah langit Parigi Moutong yang meredup, doa-doa tulus mengalir untuk Juita, mengiringi kepulangannya menuju keabadian.
FAYRUZ/*










