Air Naik, Harapan Mengapung : Lima Desa di Moutong dan Taopa Terendam Banjir

Fayruz
Seorang Petugas TRC BPBD Parigi Moutong saat di Lokasi Banjir - Foto : Ist

PARIGI MOUTONG, EQUATORNEWS — Hujan yang turun tanpa jeda sejak Jumat sore (3/4/2026) menjelma menjadi petaka bagi warga di sejumlah wilayah di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Air sungai yang meluap perlahan merayap ke permukiman, menelan halaman, memasuki rumah, dan memaksa sebagian warga meninggalkan tempat tinggal mereka.
Sedikitnya lima desa terdampak banjir yang tersebar di dua kecamatan, yakni Kecamatan Moutong dan Kecamatan Taopa. Di Kecamatan Moutong, genangan merendam Desa Gio Barat dan Desa Pandelalap. Sementara di Kecamatan Taopa, banjir menjangkau Desa Paria, Desa Tompo, dan Desa Sibatang.
Peristiwa ini mulai terjadi sekitar pukul 17.00 WITA. Namun laporan resmi baru diterima oleh Pusdalops BPBD Parigi Moutong sekitar pukul 20.00 WITA, saat kondisi di lapangan masih menunjukkan air belum surut dan cenderung bertahan.
Banjir dipicu oleh tingginya curah hujan yang mengguyur kawasan tersebut, menyebabkan sungai meluap dan melimpas ke pemukiman warga. Di Desa Gio Barat, dampak tercatat paling signifikan. Sebanyak 35 kepala keluarga terdampak, termasuk kelompok rentan yang terdiri dari 20 balita, 10 lansia, serta satu penyandang disabilitas.
Di desa yang sama, satu kepala keluarga dengan empat jiwa terpaksa mengungsi, termasuk seorang balita. Selain itu, satu unit rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan ringan akibat terjangan air.
Sementara di Desa Pandelalap, empat kepala keluarga juga memilih mengungsi. Di antara mereka terdapat satu balita dan satu lansia. Hingga laporan awal, belum ditemukan adanya kerusakan fasilitas umum di wilayah tersebut.
Untuk wilayah Kecamatan Taopa, yakni Desa Paria, Desa Tompo, dan Desa Sibatang, proses pendataan masih berlangsung. Jumlah warga terdampak dan tingkat kerusakan masih dalam tahap verifikasi di lapangan.
Hingga Jumat malam, tidak ada laporan korban jiwa. Namun kondisi tetap menjadi perhatian serius, mengingat debit air di sejumlah titik masih tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda surut secara signifikan.
Selain merendam permukiman, potensi dampak terhadap sektor pertanian dan perkebunan mulai mengemuka. Meski demikian, luas kerusakan lahan masih dalam proses pendataan lebih lanjut oleh pihak terkait.
Langkah penanganan awal yang dilakukan masih bersifat koordinatif. BPBD Parigi Moutong berkoordinasi dengan aparat desa setempat guna memastikan kondisi warga, memetakan dampak awal, serta menyiapkan kebutuhan tanggap darurat.
Tim Reaksi Cepat (TRC) dari Kecamatan Moutong dan Kecamatan Taopa telah bergerak menuju lokasi untuk melakukan asesmen atau kaji cepat. Upaya ini penting untuk menentukan skala dampak dan kebutuhan mendesak warga di lapangan.
Sejumlah unsur telah terlibat dalam penanganan awal, mulai dari aparat desa, masyarakat setempat, hingga relawan TRC di kedua kecamatan terdampak. Respons cepat berbasis lokal menjadi kunci dalam situasi di mana akses dan informasi masih terbatas.
BPBD juga mengidentifikasi kebutuhan mendesak bagi warga terdampak, terutama logistik dasar seperti makanan siap saji, air bersih, perlengkapan keluarga, serta bantuan khusus bagi kelompok rentan.
Hingga laporan terakhir, air masih menggenangi sejumlah titik. Di tengah genangan yang belum surut, warga bertahan dengan harapan yang tetap menyala—menunggu air kembali ke alurnya, dan kehidupan perlahan pulih seperti sediakala.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *