Saat Firman Menuntut Bumi: Anwar Hafid Menakar Iman di Altar MTQ Sigi

Fayruz
Gubernur Sulteng , Anwar Hafid - Foto Biro Adpim Setdaprov

SIGI, EQUATORNEWS – Malam jatuh di pelataran Kabupaten Sigi, Minggu (7/6), bukan sebagai kegelapan, melainkan sebagai kanvas tempat ayat-ayat suci dititipkan. Di bawah langit Sulawesi Tengah yang luruh oleh sisa senja, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Ke-31 Tingkat Provinsi resmi dibuka. Di balik riuh tabuh beduk dan pekik sirene yang membelah malam, ada sebuah risalah besar yang sedang digantungkan di pundak ribuan manusia yang hadir: membumikan firman, menghidupkan kembali roh kitab suci di tanah yang kerap didera fana.

​Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid M.Si., berdiri di mimbar bukan sekadar sebagai pemimpin birokrasi, melainkan sebagai penyeru. Tatapannya lurus menembus barisan kafilah dari seantero kabupaten dan kota yang menyemut di hadapannya. Bagi Anwar, perhelatan akbar MTQ tingkat provinsi ini bukan sekadar panggung megah tempat para qari dan qariah beradu merdu liuk suara, bukan pula ritus tahunan yang usai begitu piala diserahkan.

​”Al-Qur’an diturunkan dari langit, dan tugas kita adalah membumikannya,” ucap Anwar, suaranya mengalun berat, menggantung di udara malam Sigi. “Jangan sampai Al-Qur’an hanya ramai saat MTQ atau sunyi di dalam pondok-pondok tahfiz, tetapi justru berjarak dan jauh dari denyut kehidupan sehari-hari.”

​Ada nada getir sekaligus harapan yang berkelindan dalam orasi sang Gubernur. Anwar seperti sedang meratapi kecenderungan zaman, di mana kitab suci kerap hanya menjadi pajangan yang berdebu di rak-rak rumah, atau sekadar pemanis seremonial. Di hadapan unsur Forkopimda, para kepala daerah, alim ulama, dan ribuan pasang mata masyarakat Sigi, ia menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kompas moral. Ketika dunia kian bising oleh kepentingan, nilai-nilai Qur’ani harus menjadi jangkar yang menahan manusia agar tidak karam dalam kepalsuan.

​Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah kini sedang mempertaruhkan spanduk spiritualitasnya lewat program Berani Berkah melalui Gerakan Sulteng Mengaji. Malam itu, Anwar kembali meniupkan roh baru lewat sebuah manifesto yang ia sebut Gerakan BAKU SAYANG—sebuah akronim puitis: Bersama Al-Qur’an Sulteng Aman, Jaya, dan Menang.

​”Tidak ada ruginya membaca Al-Qur’an setiap hari, minimal satu lembar. Di sana ada petunjuk hidup, ada fondasi moral yang kokoh, dan ada keberkahan yang turun memeluk bumi ini,” tekannya, seolah sedang merapal mantra penolak bala untuk daerahnya.

​Di sudut panggung, para dewan hakim mendengarkan dengan khidmat. Kepada mereka yang memegang pena penentu nasib para pelantun ayat, Gubernur menitipkan pesan sunyi namun berat: jadilah mata yang adil dan nurani yang objektif. Sebab, dari ketukan palu merekalah akan lahir generasi yang tidak hanya mewakili Sulawesi Tengah di kancah nasional, tetapi menjadi duta-duta kemanusiaan yang memancarkan keluhuran budi.

​Malam kian larut di Sigi, namun getaran dari pemukulan beduk malam itu seakan menolak reda. Kabupaten Sigi, yang malam itu bersolek memeluk seluruh kafilah, telah menunaikan tugas pertamanya sebagai tuan rumah yang anggun. Kini, di atas panggung-panggung kompetisi tertinggi tingkat provinsi ini, bait-bait suci akan terus dideringkan—mencari jalan pulang ke dalam hati setiap manusia yang mendengarnya.

FAYRUZ

Bagika Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *