TOUNA, EQUATORNEWS – Pulau Buka Buka bukan sekadar pasir putih. Jumat, 11 September 2026, di Reconnect Island Resort, ia menjelma panggung kekuasaan. Di sana, para bupati dan wali kota se-Sulawesi Tengah dikumpulkan. Bupati Tojo Una-Una menjadi tuan rumah.
Di hadapan mereka, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si berdiri. Gubernur itu tidak berpidato dengan nada tinggi. Ia merajut.
Ia memulai dengan terima kasih kepada Tojo Una-Una. Baginya, sambutan hangat itu adalah modal. Sinergi, katanya, tidak lahir dari surat edaran, melainkan dari kebersamaan seperti ini.
Buka Buka, ujar Anwar Hafid, adalah cermin. Cermin yang menunjukkan betapa kayanya Sulawesi Tengah. Ada laut, ada pariwisata, ada ekonomi kepulauan yang berdenyut pelan. Tugas pemerintah adalah memastikan kekayaan itu dikelola secara berkelanjutan dan kembali kepada rakyat.
Inti arahannya satu: jangan jalan sendiri-sendiri.
Asta Cita Presiden dan 9 BERANI milik provinsi, tegas Anwar Hafid, harus bergerak dalam satu arah. Satu kompas. Visi besar “BERANI Mewujudkan Sulawesi Tengah sebagai Wilayah Pertanian dan Industri yang Maju dan Berkelanjutan” yang dijabarkan dalam empat misi RPJMD, pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari delapan Asta Cita itu sendiri.
Rakor ini adalah pisau bedah. 9 BERANI dievaluasi. Bukan untuk melihat berapa anggaran terserap, tapi seberapa dalam manfaatnya terasa.
“Jangan sampai kita merasa berhasil hanya karena program sudah dilaksanakan. Ukuran keberhasilan kita adalah ketika masyarakat merasakan manfaatnya,” kata Anwar Hafid.
Sinergi pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, menurutnya, adalah kunci agar tidak ada tumpang tindih program. Potensi pertanian, industri, tambang, kelautan, dan pariwisata Sulteng yang besar hanya bisa diolah jika dikerjakan bersama.
“Visi besar kita harus diterjemahkan menjadi kerja bersama. Tidak ada program yang bisa berhasil kalau dikerjakan sendiri. Kita harus bergerak dalam satu arah, dengan semangat yang sama, untuk mewujudkan Sulteng Nambaso,” tutupnya.
FAYRUZ










